image_pdfimage_print

INTEGRASI BUDAYA LOKAL DAN KEBIASAAN MASYARAKAT UMUM PADA PEMBELAJARAN KIMIA

 

Budaya Lokal adalah budaya yang yang berkembang di daerah-daerah dan merupakan milik suku-suku bangsa di wilayah nusantara Indonesia. Budaya lokal hidup dan berkembang di masing-masing daerah/suku bangsa yang ada di seluruh Indonesia. Untuk itu, pendidikan yang dilakukan hendaknya dapat mengembangkan potensi diri peserta didik, menumbuhkan kecintaan mereka terhadap budayanya sendiri, serta dapat membangun karakter peserta didik yang mandiri melalui pengintegrasian budaya lokal ke dalam pembelajaran. Budaya lokal sangat berpengaruh pada pembentukan pengetahuan siswa. pemanfaatan budaya lokal dalam pembelajaran sains (termasuk kimia) sangat penting. Hal ini didasarkan atas beberapa alasan sebagai berikut. Pertama, pengetahuan siswa tentang materi kimia dalam bentuk konten dan konteks budaya yang ada di sekitarnya merupakan penge-tahuan awal yang dibawa ke dalam pembelajaran. Kedua, materi kimia yang dipahami melalui konten dan konteks budaya siswa juga memberikan pengaruh terhadap peningkatan pemahaman siswa terhadap budaya yang dimiliki. Ketiga, pengintegerasian budaya lokal ke dalam pembelajaran akan dapat meningkatkan kecintaan siswa (mahasiswa) terhadap potensi (budaya) daerahnya dan keinginan untuk terus melestarikannya.

 

1. Garam Dapur (Elektrolit)

Garam merupakan suatu zat berbentuk padat, kristal, dan berwarna putih yang merupakan hasil dari laut. Garam didapatkan dengan cara mengeringkan air laut sehingga didapatkan kristal-kristal mineral berasal dari air laut. Garam sendiri mempunyai rasa asin. Rasa asin didapatkan dari air laut yang asin. Penambang garam biasanya memanfaatkan sinar matahari terik untuk mengeringkan air laut. Garam yang sudah dikemas dan dijual di pasaran umumnya berbentuk serbuk atau bongkahan dalam plastik. Garam juga terdiri dari bermacam-macam, namun yang familiar adalah garam dapur dan garam halus atau garam meja. Garam dapur berbentuk kristal atau serbuk dengan warna kurang putih. Umumnya kandungan iodiumnya tidak setinggi garam meja atau garam halus. Garam halus atau garam meja biasanya berbentuk lebih halus dan memiliki iodium yang tinggi namun rasanya kurang asin. Dalam ilmu kimia, garam adalah senyawa ionik yang terdiri dari ion positif (kation) dan ion negatif (anion), sehingga membentuk senyawa netral (tanpa bermuatan). Garam terbentuk dari hasil reaksi asam dan basa. Komponen kation dan anion ini dapat berupa senyawa anorganik seperti klorida (Cl), dan bisa juga berupa senyawa organik seperti asetat (CH3COO) dan ion monoatomik seperti fluorida (F), serta ion poliatomik seperti sulfat (SO42−). Natrium klorida (NaCl), bahan utama garam dapur adalah suatu garam.

Ada banyak macam-macam garam. Garam yang terhidrolisa dan membentuk ion hidroksida ketika dilarutkan dalam air maka dinamakan garam basa. Garam yang terhidrolisa dan membentuk ion hidronium di air disebut sebagai garam asam. Garam netral adalah garam yang bukan garam asam maupun garam basa. Larutan zwittorion mempunyai sebuah anionik dan kationik di tengah di molekul yang sama, tapi tidak disebut sebagai garam. Contohnya adalah asam amino, metabolit, peptida, dan protein. Larutan garam dalam air (Misalnya natrium klorida dalam air) merupakan larutan elektrolit, yaitu larutan yang dapat menghantarkan arus listrik. Cairan dalam tubuh makhluk hidup mengandung larutan garam, misalnya sitoplasma dan darah. Tapi, karena cairan dalam tubuh ini juga mengandung banyak ion-ion lainnya, maka tidak akan membentuk garam setelah airnya diuapkan.

2. Melasti (elektrolit)

Untuk menyambut Hari Raya Nyepi, pelaksanaan upacara Melasti ini di bagi berdasarkan wilayah, di Ibukota provinsi dilakukan Upacara Tawur. Melasti adalah upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Nyepi oleh seluruh umat Hindu di Bali. pacara Melasti digelar untuk menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan. Upacara Melasti dilaksanakan di pinggir pantai dengan tujuan mensucikan diri dari segala perbuatan buruk pada masa lalu dan membuangnya ke laut.  Dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau, dan laut dianggap sebagai air kehidupan (tirta amerta). Selain melakukan persembahyangan, upacara Melasti juga adalah pembersihan dan penyucian benda sakral milik pura (pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya). Benda-benda tersebut diarak dan diusung mengelilingi desa. Hal ini dimaksudkan untuk menyucikan desa. Dalam upacara ini, masyarakat dibentuk berkelompok ke sumber-sumber air seperti danau dan laut. Satu kelompok berasal dari wilayah atau desa yang sama. Seluruh peserta mengenakan baju putih. Para pemangku berkeliling dan memercikan air suci kepada seluruh warga yang datang serta perangkat-perangkat peribadatan dan menebarkan asap dupa sebagai wujud mensucian. Pelaksaaan upacara Melasti dilengkapi dengan berbagai sesajian sebagai simbol Trimurti, 3 dewa dalam Agama Hindu, yaitu Wisnu, Siwa, dan Brahma, serta Jumpana, singgasana Dewa Brahma. Air laut merupakan air suci yang dapat menghilangkan mala/leteh atau kotoran. Air laut mengandung ion-ion terlarut dan jika dikristalkan akan diperoleh garam dapur. Air laut merupakan larutan elek-trolit, yaitu larutan yang dapat meng-hantarkan arus listrik.

3. Ritual Megat Benang (Ikatan Kimia)

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula. Pengesahan secara hukum suatu pernikahan biasanya terjadi pada saat dokumen tertulis yang mencatatkan pernikahan ditanda-tangani. Upacara pernikahan sendiri biasanya merupakan acara yang dilangsungkan untuk melakukan upacara berdasarkan adat-istiadat yang berlaku, dan kesempatan untuk merayakannya bersama teman dan keluarga. Wanita dan pria yang sedang melangsungkan pernikahan dinamakan pengantin, dan setelah upacaranya selesai kemudian mereka dinamakan suami dan istri dalam ikatan perkawinan. Ritual megat benang pada upacara pawiwahah (perkawinan) dan tusuk keris atau menyarungkan keris secara bersama-sama antara mempelai wanita dan pria sebagai simbol pemutusan ikatan masa lajang dan membentuk ikatan baru sebagai pasangan suami istri. Ritual ini relevan dengan konsep ikatan kimia. Reaksi kimia terjadi mela-lui pemutusan ikatan lama dan pemben-tukan ikatan baru sehingga terbentuk zat yang lebih stabil. Ikatan kimia terjadi karena adanya gaya tarik antara partikel (atom, molekul, ion) satu dengan parti-kel (atom, molekul, ion) lain. Semantara itu, pemberian nama orang Bali dilaku-kan dalam upacara abhiseka (tiga bulanan) didasarkan pada hari kelahirannya (wariga) yang dikaitkan dengan hukum alam yang disebut rta. Upacara abhiseka untuk memberikan nama ke-pada si cabang bayi supaya nama yang diberikan sesuai dengan hari kelahiran-nya sehingga dapat mendatangkan ke-selamatan dan kebahagiaan. Upacara ini relevan dengan tata cara pemberian nama pada senyawa organik dan anorganik. Perbedaan pemberian nama antara kebiasaan orang Bali dengan aturan ilmiah, yaitu: pemberian nama pada orang Bali memungkinkan terjadi nama yang sama, sedangkan pemberian nama secara ilmiah setiap zat (unsur dan senyawa) harus memiliki satu nama tertentu. Tidak mungkin zat yang berbe-da memiliki nama sama.

 

4. Pembakaran mayat pada tradisi ngaben (redoks)

Ngaben merupakan upacara kremasi atau pembakaran jenazah di Bali, Indonesia. Upacara adat Ngaben merupakan sebuah ritual yang dilakukan untuk mengirim jenazah pada kehidupan mendatang. Dalam upacara ini, jenazah diletakkan dengan posisi seperti orang tidur. Keluarga yang ditinggalkan pun akan beranggapan bahwa orang yang meninggal tersebut sedang tertidur. Dalam upacara ini, tidak ada air mata karena mereka menganggap bahwa jenazah hanya tidak ada untuk sementara waktu dan menjalani reinkarnasi atau akan menemukan peristirahatan terakhir di Moksha yaitu suatu keadaan dimana jiwa telah bebas dari reinkarnasi dan roda kematian. Upacara ngaben ini juga menjadi simbol untuk menyucikan roh orang yang telah meninggal.

Pada proses pembakaran mayat terjadi reaksi redoks, dimana karbohidrat, lemak, asam nukleat yang berasal dari unsur C dan H berubah menjadi CO2 uap air. Mineral diubah menjadi oksida-oksida logam. Reaksi yang terjadi :

CH(g) + 2O(g) → CO(g) + 2HO(g)

 

5. Penggunaan daun gamal pada proses pemeraan pisang. (hidrokarbon)

Banyak cara digunakan untuk mempercepat proses pematangan pisang. Salah satunya yang sering digunakan oleh masyarakat zaman dulu adalah penggunaan daun gamal atau daun dsapdap. Hal ini dpilih karena sifatnya yang ekonomis yaitu, hanya cukup mengambil dari alam saja dan karena dulu belum ditemukan cara yang praktis dalam pemasakan pisang sepert penggunan karbit. Sebenarnya penggunaan daun ini mengasilkan pisang dengan nilai gizi yang lebih baik dari pada dengan menggunakan karbit karena sifatnya lebih alami. Salah satu tanda dari buah pisang yang masakmenggunakan daun ini yaitu aroma yang dihasilkan akan lebih alami. Dari sisi pencemaran, penggunaan daun ini termasuk cara yang ramah lingkungan. Karena limbahnya tidak merusak lingkungan tetapi bisa menguntungkan yaitu digunakan sebagai pupuk. Hasil pemasakan buah dengan menggunakan daun ini bisa bertahan lama bisa sampai seminggu. dan tidak cepat busuk. Prosses pemasakannya memiliki selang waktu yang tidak beda dengan waktu pemasakan menggunakan karbit. Hanya berselisih 2 hari pada daun gamal dan 3 hari pada daun dapdap.

Semua bagian tumbuhan mampu menghasilkan etilen termasuk pada daun juga mampu menghasilkan etilen (C2H4). Hal  inilah yang terjadi pada daun gamal, dimana daunnya juga menghasilkan etilen sehingga mampu  membantu dalam pemasakan buah. Biasanya daun yang bisa digunakan yaitu daun yang sudah mengalami absisi.. Sistesis etilen ini dipengaruhi oleh auksin. Etilen (C2H4 ) merupakan hormon tumbuhan yang berbentuk gas dan bertanggung jawab dalam proses pemasakan dan penuaan. Buah yang bereaksi dengan etilen biasanya merespon dengan mengadakan peningkatan respirasi anaerob pada sel, hal ini akan muncul sebelum buah masak. Hal ini sejalan dengan aktivitas respirasi pada buah klimakterik seperti pisang bahwa aktivitas respirasi meningkat pada awal sampai puncak klimakterik. Setelah itu menurun dengan drastis. Dengan menurunnya aktivitas respirasi tersebut mengakibatkan tidak cukup tersedianya energi yang diperlukan dalam perjalanan sintesis sukrosa Pada saat pemasakan buah  terjadi peningkatan respirasi, produksi etilen serta terjadi akumulasi gula, perombakan klorofil dan senyawa lain sehingga buah menjadi lunak dan warna kulitnya menjadi kuning.

 

(Opini) Integrasi Budaya Lokal dan Kebiasaan Masyarakat Umum Pada Pembelajaran Kimia

2 gagasan untuk “(Opini) Integrasi Budaya Lokal dan Kebiasaan Masyarakat Umum Pada Pembelajaran Kimia

Tinggalkan Balasan